Postingan

Berjuang di PMII, Berlabuh di Kelas: Salah Jalan atau Justru Puncak Perjuangan?

Banyak yang bertanya sinis: untuk apa aktif di PMII kalau pada akhirnya hanya menjadi guru? Seolah-olah ruang kelas adalah tempat “berhenti”, bukan medan perjuangan. Padahal, cara pandang seperti ini justru terlalu sempit dalam memaknai gerakan dan pengabdian. PMII bukan sekadar organisasi untuk mencetak aktivis jalanan atau orator mimbar. Ia adalah ruang kaderisasi—tempat menempa cara berpikir kritis, keberpihakan pada rakyat, serta keberanian menyuarakan kebenaran. Lalu ketika seorang kader memilih menjadi guru, apakah nilai-nilai itu hilang? Tidak. Justru di sanalah nilai itu diuji secara nyata. Menjadi guru bukan berarti meninggalkan idealisme, tapi memindahkan arena juang. Dari jalanan ke ruang kelas, dari teriakan ke pembentukan karakter. Seorang guru kader PMII punya potensi besar: menanamkan kesadaran kritis sejak dini, membentuk generasi yang tidak apatis, dan melahirkan pemikir-pemikir masa depan. Namun kritiknya juga jelas: jangan sampai PMII hanya dijadikan “romantisa...

Negeri Lullaby

Di sebuah dunia dalam anime yang langitnya selalu berwarna senja, ada satu negara bernama Lullaby. Negeri ini indah sekali—rumah-rumahnya rapi, jalanannya bersih, dan setiap pagi terdengar lagu lembut dari pengeras suara di langit. Aku, Aru, seorang anak berumur 12 tahun, sering duduk di jendela sambil mendengarkan lagu itu. Katanya, lagu itu membuat hati tenang. Tapi entah kenapa… aku justru merasa seperti sedang dilupakan. Setiap pagi, kami mendapat makanan bergizi gratis. Nasi hangat, telur, sayur, bahkan susu. Guru-guru bilang, “Ini hadiah dari Presiden kita. Beliau sangat mencintai rakyatnya.” Aku mengangguk. Semua anak mengangguk. Tapi aku pernah melihat ibu diam lama sebelum makan. Seperti ingin mengatakan sesuatu, tapi tidak jadi. Di desa kami juga ada Koperasi Desa. Tempat orang-orang mengambil kebutuhan sehari-hari. Semua terasa mudah. Tidak perlu khawatir. Tidak perlu bertanya terlalu banyak. Ayahku pernah bilang pelan, “Kalau semua terlalu mudah… biasanya ada yang disembuny...

Kesetaraan Gender Bukan Berarti Melupakan Etika dan Norma

Kesetaraan gender sering kali dipahami sebagai upaya untuk menyamakan posisi laki-laki dan perempuan dalam berbagai aspek kehidupan. Dalam semangatnya, kesetaraan ini lahir dari kebutuhan akan keadilan—bahwa setiap manusia berhak mendapatkan kesempatan yang sama tanpa dibatasi oleh jenis kelamin. Namun, dalam praktiknya, pemahaman ini tidak jarang bergeser menjadi kebebasan tanpa batas, seolah-olah kesetaraan berarti menanggalkan seluruh aturan, termasuk etika dan norma yang telah lama menjadi fondasi kehidupan sosial. Padahal, kesetaraan gender bukanlah upaya untuk menghapus nilai-nilai yang menjaga harmoni masyarakat. Kesetaraan justru harus berdiri di atas landasan etika dan norma, agar tidak kehilangan arah. Tanpa etika, kesetaraan bisa berubah menjadi sikap individualistik yang mengabaikan tanggung jawab sosial. Tanpa norma, kebebasan yang diperjuangkan justru berpotensi menimbulkan konflik dan ketidakseimbangan baru. Etika berfungsi sebagai kompas moral yang membimbing manusi...

Hipnosis Kekuasaan

Kalian tahu tentang hipnosis? Dalam dunia psikologi, hipnosis adalah keadaan ketika seseorang masuk ke dalam alam bawah sadar—sebuah ruang sunyi di mana logika tidak sepenuhnya bekerja, dan sugesti menjadi begitu kuat. Di titik itu, seseorang bisa menerima sesuatu tanpa banyak bertanya. Bukan karena bodoh, tetapi karena kesadarannya sedang diarahkan. Pertanyaannya, apakah mungkin sebuah bangsa juga bisa “dihipnosis”? Hari ini, saya mulai merasa ada pola yang menyerupai itu. Bukan hipnosis dalam arti harfiah, melainkan cara-cara halus yang membuat publik perlahan menerima berbagai program besar tanpa cukup ruang untuk mempertanyakan. Program-program itu datang dengan nama yang terdengar baik, bahkan mulia—seperti MBG, KDMP, dan berbagai inisiatif lain yang dikemas dengan bahasa kesejahteraan. Di permukaan, semuanya tampak menjanjikan. Rakyat diberi harapan, narasi dibangun dengan rapi, dan optimisme disebarkan melalui berbagai saluran. Tapi seperti dalam hipnosis, fokus kita dia...

Orde Apa Hari Ini?

Pertanyaan itu muncul pelan, seperti bisikan yang enggan menjadi teriakan. Ia lahir dari kegelisahan yang tidak tiba-tiba—melainkan dari potongan-potongan peristiwa yang, jika dirangkai, membentuk pola yang terasa begitu akrab dalam ingatan sejarah Indonesia. Dulu, kita pernah hidup di bawah bayang-bayang Orde Baru —sebuah masa ketika stabilitas dijunjung tinggi, tetapi kebebasan sering kali dibayar mahal. Negara hadir di hampir setiap sudut kehidupan, dan kritik terhadap kekuasaan kerap dibalas dengan represi. Waktu bergulir, rezim berganti, dan reformasi menjanjikan sesuatu yang berbeda: kebebasan, transparansi, serta supremasi sipil. Namun hari ini, sebagian orang mulai bertanya kembali: apakah kita benar-benar telah jauh dari masa itu? Ketika aparat kepolisian tidak hanya mengurusi keamanan, tetapi juga terlibat dalam program-program sosial seperti MBG, muncul pergeseran peran yang memantik diskusi. Di sisi lain, keterlibatan TNI dalam urusan sipil seperti KDMP menimbulkan pertanya...

Relawan Digaji Tinggi, Guru Honorer Bertahan dengan Upah Seadanya: Di Mana Keadilan Negara?

Belakangan ini, publik dibuat bertanya-tanya oleh munculnya informasi tentang relawan MBG yang menerima gaji relatif tinggi. Di saat yang sama, guru honorer—yang telah lama mengabdi di sekolah-sekolah negeri maupun swasta—masih harus bertahan dengan penghasilan yang jauh dari kata layak. Kondisi ini bukan sekadar soal perbandingan angka, melainkan soal keadilan, prioritas, dan arah kebijakan negara. Guru honorer memikul tanggung jawab besar dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Mereka hadir setiap hari di ruang kelas, menyiapkan materi, membimbing siswa, menghadapi tantangan kurikulum, dan membentuk karakter generasi masa depan. Namun, pengabdian panjang tersebut sering kali dibalas dengan upah minim, tanpa kepastian status, jaminan kesejahteraan, maupun perlindungan yang memadai. Sebaliknya, relawan dalam program tertentu—yang sifatnya sementara dan berbasis proyek—justru memperoleh apresiasi finansial yang lebih tinggi. Ini menimbulkan pertanyaan mendasar: apakah kerja yang bersifat p...