Postingan

Hipnosis Kekuasaan

Kalian tahu tentang hipnosis? Dalam dunia psikologi, hipnosis adalah keadaan ketika seseorang masuk ke dalam alam bawah sadar—sebuah ruang sunyi di mana logika tidak sepenuhnya bekerja, dan sugesti menjadi begitu kuat. Di titik itu, seseorang bisa menerima sesuatu tanpa banyak bertanya. Bukan karena bodoh, tetapi karena kesadarannya sedang diarahkan. Pertanyaannya, apakah mungkin sebuah bangsa juga bisa “dihipnosis”? Hari ini, saya mulai merasa ada pola yang menyerupai itu. Bukan hipnosis dalam arti harfiah, melainkan cara-cara halus yang membuat publik perlahan menerima berbagai program besar tanpa cukup ruang untuk mempertanyakan. Program-program itu datang dengan nama yang terdengar baik, bahkan mulia—seperti MBG, KDMP, dan berbagai inisiatif lain yang dikemas dengan bahasa kesejahteraan. Di permukaan, semuanya tampak menjanjikan. Rakyat diberi harapan, narasi dibangun dengan rapi, dan optimisme disebarkan melalui berbagai saluran. Tapi seperti dalam hipnosis, fokus kita dia...

Orde Apa Hari Ini?

Pertanyaan itu muncul pelan, seperti bisikan yang enggan menjadi teriakan. Ia lahir dari kegelisahan yang tidak tiba-tiba—melainkan dari potongan-potongan peristiwa yang, jika dirangkai, membentuk pola yang terasa begitu akrab dalam ingatan sejarah Indonesia. Dulu, kita pernah hidup di bawah bayang-bayang Orde Baru —sebuah masa ketika stabilitas dijunjung tinggi, tetapi kebebasan sering kali dibayar mahal. Negara hadir di hampir setiap sudut kehidupan, dan kritik terhadap kekuasaan kerap dibalas dengan represi. Waktu bergulir, rezim berganti, dan reformasi menjanjikan sesuatu yang berbeda: kebebasan, transparansi, serta supremasi sipil. Namun hari ini, sebagian orang mulai bertanya kembali: apakah kita benar-benar telah jauh dari masa itu? Ketika aparat kepolisian tidak hanya mengurusi keamanan, tetapi juga terlibat dalam program-program sosial seperti MBG, muncul pergeseran peran yang memantik diskusi. Di sisi lain, keterlibatan TNI dalam urusan sipil seperti KDMP menimbulkan pertanya...

Relawan Digaji Tinggi, Guru Honorer Bertahan dengan Upah Seadanya: Di Mana Keadilan Negara?

Belakangan ini, publik dibuat bertanya-tanya oleh munculnya informasi tentang relawan MBG yang menerima gaji relatif tinggi. Di saat yang sama, guru honorer—yang telah lama mengabdi di sekolah-sekolah negeri maupun swasta—masih harus bertahan dengan penghasilan yang jauh dari kata layak. Kondisi ini bukan sekadar soal perbandingan angka, melainkan soal keadilan, prioritas, dan arah kebijakan negara. Guru honorer memikul tanggung jawab besar dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Mereka hadir setiap hari di ruang kelas, menyiapkan materi, membimbing siswa, menghadapi tantangan kurikulum, dan membentuk karakter generasi masa depan. Namun, pengabdian panjang tersebut sering kali dibalas dengan upah minim, tanpa kepastian status, jaminan kesejahteraan, maupun perlindungan yang memadai. Sebaliknya, relawan dalam program tertentu—yang sifatnya sementara dan berbasis proyek—justru memperoleh apresiasi finansial yang lebih tinggi. Ini menimbulkan pertanyaan mendasar: apakah kerja yang bersifat p...

Pemimpin dan Kemlaratan

Kemlaratan kerap dipahami sebagai kekurangan materi, ketiadaan harta, atau hidup yang jauh dari kenyamanan. Namun dalam sejarah kepemimpinan, justru dari kemlaratan sering lahir pemimpin yang paling jujur pada amanah. Ia tidak membeli loyalitas, tidak menukar kebijakan dengan rupiah, dan tidak menjadikan jabatan sebagai jalan memperkaya diri. Kepemimpinan semacam ini jarang, tetapi nyata. Di Institut Agama Islam Pangeran Diponegoro Nganjuk, pernah berdiri seorang pemimpin mahasiswa yang memimpin tanpa pragmatisme uang sama sekali. Ia adalah Presiden Mahasiswa yang hidup dalam kemlaratan, namun kaya akan tanggung jawab. Tidak ada fasilitas mewah, tidak ada keuntungan finansial, bahkan sering kali harus merogoh saku sendiri untuk sekadar menjalankan roda organisasi. Namun amanah tidak pernah ia tawar. Ia merupakan kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), tumbuh dan ditempa di komisariat pada masa itu. Proses kaderisasi membentuknya menjadi pribadi yang memahami bahwa kepemimpin...

Sebuah Kritik Untuk Diri Sendiri

Terkadang, saya lupa… bahwa di depan saya bukanlah sekadar murid yang harus bisa menjawab soal-soal agama, melainkan jiwa-jiwa kecil yang sedang belajar memahami dunia. Saya terlalu sering menuntut mereka untuk hafal ayat, tanpa menanyakan, apakah hatinya sedang tenang hari ini? Saya memuji mereka yang cepat menjawab, namun lupa menepuk bahu anak yang diam karena pikirannya mungkin sedang lelah. Di ruang kelas, saya bicara tentang akhlak dan sabar, tapi saya sendiri kadang kehilangan sabar saat mereka tak fokus mendengar. Saya menyuruh mereka mencintai ilmu, padahal kadang saya mengajar dengan wajah yang letih, tanpa semangat, seakan ilmu hanyalah rutinitas, bukan cahaya. Saya baru sadar, menjadi guru Pendidikan Agama Islam bukan hanya soal menjelaskan rukun iman, tetapi juga memahami hati anak yang mungkin sedang retak. Tugas saya bukan sekadar membenarkan bacaan doa, melainkan menenangkan jiwa yang gundah, dan menuntun mereka mengenal Allah bukan karena takut, tetapi karena cinta. Ha...

DUNIA DEDY

Dedy kecil duduk di teras rumah, menatap langit sore yang seperti sedang berpikir. Awan berarak pelan, dan matahari bersembunyi malu di balik pucuk pohon mangga. Ia memegang pensil kecil ujungnya tumpul, tapi pikirannya tajam. “Bu,” katanya pelan, “kalau Tuhan itu ada di mana-mana, berarti Dia juga di dalam batu, kan?” Ibunya sedang menyapu halaman. Ia tersenyum, tidak terkejut. Ia tahu, anaknya ini tak pernah berhenti menanyakan hal yang membuat langit ikut berpikir. “Iya, Ded. Tapi bukan berarti batu itu Tuhan. Batu hanya tempat di mana Tuhan hadir tanpa harus menjadi batu.” Dedy terdiam. “Jadi, Tuhan bisa hadir tanpa menjadi sesuatu?” “Iya. Seperti cinta, Ded. Kau bisa merasakannya, tapi tak bisa memegangnya.” Dedy menatap ibunya lama, lalu berkata dengan polos, “Tapi Bu, kalau cinta tak bisa dipegang, kenapa banyak orang menggenggam tangan saat sedang jatuh cinta?” Ibunya berhenti menyapu. Ia menatap anaknya dengan tatapan yang sulit dijelaskan antara kagum, bangga, dan sedikit tak...