Postingan

Guru di Dua Era: 70-an dan 2026

Dulu, guru tahun 70-an mengajar dengan fasilitas yang sederhana. Kapur tulis, papan hitam, buku yang terbatas, bahkan perjalanan ke sekolah pun sering kali tidak mudah. Namun, di balik segala kekurangan itu, ada satu hal yang sulit dibantah: kewibawaan guru lahir dari keteladanan. Murid menghormati bukan karena takut pada aturan, melainkan karena melihat sosok yang hidupnya selaras dengan apa yang diajarkan. Hari ini, tahun 2026, keadaan berubah. Guru memiliki internet, kecerdasan buatan, proyektor, platform digital, kurikulum yang terus diperbarui, dan akses ilmu yang hampir tak berbatas. Ironisnya, semakin banyak alat, semakin sedikit waktu untuk benar-benar mendidik. Guru sibuk mengunggah data, mengisi aplikasi, mengejar administrasi, hingga terkadang lupa bahwa inti pendidikan bukanlah dokumen, melainkan manusia. Dulu, guru berlomba menjadi teladan. Hari ini, sebagian guru justru lebih sibuk membangun citra. Kelas kadang berubah menjadi panggung konten, sementara ruang dialog den...

Surat untuk Tuhanku

Karya: Miftaqhul Dedy Melandy Tuhan, Barangkali ribuan doaku tak pernah terlambat sampai kepada-Mu. Barangkali yang terlambat hanyalah aku, memahami cara-Mu menjawab. Maka surat ini kutulis. Bukan agar Engkau membaca, melainkan agar aku berani membaca diriku sendiri. Dalam perjalanan pulang dari pengabdian ini, ada satu hal yang paling kutakutkan. Bukan neraka. Aku takut menjadi manusia yang membuat Adam dan Siti Hawa bersedih. Sebab aku lahir dari cinta yang Kau titipkan kepada keduanya, tetapi sering kali hidup dengan kesombongan yang kubangun sendiri. Orang berkata putus cinta adalah luka terdalam. Bagiku, yang lebih menyakitkan adalah ketika hati tak lagi mengenali Tuhannya, dan seorang manusia merasa asing terhadap dirinya sendiri. Hari raya Jum’at ini izinkan aku mengajukan protes kecil. Hari ini aku tidak membawa kerinduan, tidak pula membawa doa-doa yang panjang. Aku hanya membawa diam. Sebab barangkali Engkau tidak sedang menunggu banyaknya doaku. Engkau hanya menu...

ANALISA KEBIJAKAN KAMPUS

Membangun Kepekaan Kritis Mahasiswa dalam Mengawal Kebijakan Kampus Pendahuluan Kampus merupakan ruang akademik yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat belajar, tetapi juga sebagai tempat pembentukan karakter, kepemimpinan, dan kemampuan berpikir kritis mahasiswa. Dalam menjalankan aktivitasnya, kampus menghasilkan berbagai kebijakan yang mengatur kehidupan akademik maupun non-akademik. Kebijakan tersebut dapat berupa aturan akademik, sistem pembayaran pendidikan, tata tertib mahasiswa, hingga pengelolaan organisasi kemahasiswaan. Sebagai bagian dari civitas akademika, mahasiswa perlu memahami bahwa kebijakan kampus bukan sekadar aturan yang harus dipatuhi, melainkan juga dapat dikaji, dianalisis, dan diberikan masukan secara konstruktif. Oleh karena itu, kemampuan melakukan analisa kebijakan menjadi salah satu keterampilan penting yang harus dimiliki mahasiswa. Analisa kebijakan kampus adalah proses memahami, mengkaji, menilai, serta memberikan rekomendasi terhadap suatu kebijakan y...

Berjuang di PMII, Berlabuh di Kelas: Salah Jalan atau Justru Puncak Perjuangan?

Banyak yang bertanya sinis: untuk apa aktif di PMII kalau pada akhirnya hanya menjadi guru? Seolah-olah ruang kelas adalah tempat “berhenti”, bukan medan perjuangan. Padahal, cara pandang seperti ini justru terlalu sempit dalam memaknai gerakan dan pengabdian. PMII bukan sekadar organisasi untuk mencetak aktivis jalanan atau orator mimbar. Ia adalah ruang kaderisasi—tempat menempa cara berpikir kritis, keberpihakan pada rakyat, serta keberanian menyuarakan kebenaran. Lalu ketika seorang kader memilih menjadi guru, apakah nilai-nilai itu hilang? Tidak. Justru di sanalah nilai itu diuji secara nyata. Menjadi guru bukan berarti meninggalkan idealisme, tapi memindahkan arena juang. Dari jalanan ke ruang kelas, dari teriakan ke pembentukan karakter. Seorang guru kader PMII punya potensi besar: menanamkan kesadaran kritis sejak dini, membentuk generasi yang tidak apatis, dan melahirkan pemikir-pemikir masa depan. Namun kritiknya juga jelas: jangan sampai PMII hanya dijadikan “romantisa...