Berjuang di PMII, Berlabuh di Kelas: Salah Jalan atau Justru Puncak Perjuangan?
Banyak yang bertanya sinis: untuk apa aktif di PMII kalau pada akhirnya hanya menjadi guru? Seolah-olah ruang kelas adalah tempat “berhenti”, bukan medan perjuangan. Padahal, cara pandang seperti ini justru terlalu sempit dalam memaknai gerakan dan pengabdian. PMII bukan sekadar organisasi untuk mencetak aktivis jalanan atau orator mimbar. Ia adalah ruang kaderisasi—tempat menempa cara berpikir kritis, keberpihakan pada rakyat, serta keberanian menyuarakan kebenaran. Lalu ketika seorang kader memilih menjadi guru, apakah nilai-nilai itu hilang? Tidak. Justru di sanalah nilai itu diuji secara nyata. Menjadi guru bukan berarti meninggalkan idealisme, tapi memindahkan arena juang. Dari jalanan ke ruang kelas, dari teriakan ke pembentukan karakter. Seorang guru kader PMII punya potensi besar: menanamkan kesadaran kritis sejak dini, membentuk generasi yang tidak apatis, dan melahirkan pemikir-pemikir masa depan. Namun kritiknya juga jelas: jangan sampai PMII hanya dijadikan “romantisa...