Negeri Lullaby
Di sebuah dunia dalam anime yang langitnya selalu berwarna senja, ada satu negara bernama Lullaby. Negeri ini indah sekali—rumah-rumahnya rapi, jalanannya bersih, dan setiap pagi terdengar lagu lembut dari pengeras suara di langit.
Aku, Aru, seorang anak berumur 12 tahun, sering duduk di jendela sambil mendengarkan lagu itu.
Katanya, lagu itu membuat hati tenang.
Tapi entah kenapa… aku justru merasa seperti sedang dilupakan.
Setiap pagi, kami mendapat makanan bergizi gratis. Nasi hangat, telur, sayur, bahkan susu. Guru-guru bilang, “Ini hadiah dari Presiden kita. Beliau sangat mencintai rakyatnya.”
Aku mengangguk. Semua anak mengangguk.
Tapi aku pernah melihat ibu diam lama sebelum makan. Seperti ingin mengatakan sesuatu, tapi tidak jadi.
Di desa kami juga ada Koperasi Desa. Tempat orang-orang mengambil kebutuhan sehari-hari. Semua terasa mudah. Tidak perlu khawatir. Tidak perlu bertanya terlalu banyak.
Ayahku pernah bilang pelan, “Kalau semua terlalu mudah… biasanya ada yang disembunyikan.”
Tapi setelah itu, ayah langsung diam. Ia menatap langit cukup lama, seolah takut ada yang mendengar.
Suatu hari, seluruh negeri ramai.
Berita besar muncul di layar-layar raksasa:
“Kenaikan BBM DIBATALKAN oleh Presiden!”
Semua orang bersorak. Tetangga-tetangga tersenyum. Guru kami bahkan menangis haru.
“Lihat, betapa baiknya Presiden kita,” kata mereka.
Aku juga ikut tersenyum.
Tapi malam itu, aku mendengar sesuatu.
Bukan dari televisi. Bukan dari orang-orang.
Melainkan dari langit.
Suara lagu itu… berubah.
Bukan lagi lembut.
Melainkan seperti bisikan yang diulang-ulang:
“Semua baik-baik saja… semua baik-baik saja…”
Aku menutup telinga. Tapi suara itu masuk ke dalam kepala.
Besoknya, aku melihat sesuatu yang aneh.
Temanku, Riko, berdiri diam di halaman sekolah. Ia tersenyum… tapi matanya kosong.
“Riko?” panggilku.
Ia menoleh pelan.
“Semua baik-baik saja,” katanya.
Hanya itu.
Sejak hari itu, aku mulai memperhatikan.
Setiap kali ada berita besar—tentang makanan gratis, tentang koperasi, tentang keputusan presiden—lagu dari langit selalu diputar lebih lama.
Dan orang-orang… menjadi lebih tenang.
Terlalu tenang.
Seperti tidak lagi punya pertanyaan.
Aku mulai bertanya-tanya.
Apakah ini benar-benar negeri yang bahagia?
Atau negeri yang sedang ditidurkan?
Suatu malam, aku naik ke atap rumah.
Aku melihat ke langit.
Ada sesuatu di sana.
Bukan bintang.
Melainkan menara-menara tinggi, melayang, memancarkan cahaya biru. Dari sanalah lagu itu berasal.
Aku menggenggam tangan sendiri.
Jika semua orang memilih untuk tidur…
Apakah aku harus ikut tidur juga?
Atau tetap terjaga, meski sendirian?
Angin malam berhembus pelan.
Dan untuk pertama kalinya, aku berani berbisik pada diriku sendiri:
“Bagaimana kalau… ini bukan cinta?”
Sejak saat itu, aku berhenti mendengarkan lagu.
Dan dunia… mulai terasa berbeda.
Komentar
Posting Komentar