Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2026

Relawan Digaji Tinggi, Guru Honorer Bertahan dengan Upah Seadanya: Di Mana Keadilan Negara?

Belakangan ini, publik dibuat bertanya-tanya oleh munculnya informasi tentang relawan MBG yang menerima gaji relatif tinggi. Di saat yang sama, guru honorer—yang telah lama mengabdi di sekolah-sekolah negeri maupun swasta—masih harus bertahan dengan penghasilan yang jauh dari kata layak. Kondisi ini bukan sekadar soal perbandingan angka, melainkan soal keadilan, prioritas, dan arah kebijakan negara. Guru honorer memikul tanggung jawab besar dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Mereka hadir setiap hari di ruang kelas, menyiapkan materi, membimbing siswa, menghadapi tantangan kurikulum, dan membentuk karakter generasi masa depan. Namun, pengabdian panjang tersebut sering kali dibalas dengan upah minim, tanpa kepastian status, jaminan kesejahteraan, maupun perlindungan yang memadai. Sebaliknya, relawan dalam program tertentu—yang sifatnya sementara dan berbasis proyek—justru memperoleh apresiasi finansial yang lebih tinggi. Ini menimbulkan pertanyaan mendasar: apakah kerja yang bersifat p...

Pemimpin dan Kemlaratan

Kemlaratan kerap dipahami sebagai kekurangan materi, ketiadaan harta, atau hidup yang jauh dari kenyamanan. Namun dalam sejarah kepemimpinan, justru dari kemlaratan sering lahir pemimpin yang paling jujur pada amanah. Ia tidak membeli loyalitas, tidak menukar kebijakan dengan rupiah, dan tidak menjadikan jabatan sebagai jalan memperkaya diri. Kepemimpinan semacam ini jarang, tetapi nyata. Di Institut Agama Islam Pangeran Diponegoro Nganjuk, pernah berdiri seorang pemimpin mahasiswa yang memimpin tanpa pragmatisme uang sama sekali. Ia adalah Presiden Mahasiswa yang hidup dalam kemlaratan, namun kaya akan tanggung jawab. Tidak ada fasilitas mewah, tidak ada keuntungan finansial, bahkan sering kali harus merogoh saku sendiri untuk sekadar menjalankan roda organisasi. Namun amanah tidak pernah ia tawar. Ia merupakan kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), tumbuh dan ditempa di komisariat pada masa itu. Proses kaderisasi membentuknya menjadi pribadi yang memahami bahwa kepemimpin...