Sebuah Kritik Untuk Diri Sendiri
Terkadang, saya lupa… bahwa di depan saya bukanlah sekadar murid yang harus bisa menjawab soal-soal agama, melainkan jiwa-jiwa kecil yang sedang belajar memahami dunia. Saya terlalu sering menuntut mereka untuk hafal ayat, tanpa menanyakan, apakah hatinya sedang tenang hari ini? Saya memuji mereka yang cepat menjawab, namun lupa menepuk bahu anak yang diam karena pikirannya mungkin sedang lelah. Di ruang kelas, saya bicara tentang akhlak dan sabar, tapi saya sendiri kadang kehilangan sabar saat mereka tak fokus mendengar. Saya menyuruh mereka mencintai ilmu, padahal kadang saya mengajar dengan wajah yang letih, tanpa semangat, seakan ilmu hanyalah rutinitas, bukan cahaya. Saya baru sadar, menjadi guru Pendidikan Agama Islam bukan hanya soal menjelaskan rukun iman, tetapi juga memahami hati anak yang mungkin sedang retak. Tugas saya bukan sekadar membenarkan bacaan doa, melainkan menenangkan jiwa yang gundah, dan menuntun mereka mengenal Allah bukan karena takut, tetapi karena cinta. Ha...