Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2025

Sebuah Kritik Untuk Diri Sendiri

Terkadang, saya lupa… bahwa di depan saya bukanlah sekadar murid yang harus bisa menjawab soal-soal agama, melainkan jiwa-jiwa kecil yang sedang belajar memahami dunia. Saya terlalu sering menuntut mereka untuk hafal ayat, tanpa menanyakan, apakah hatinya sedang tenang hari ini? Saya memuji mereka yang cepat menjawab, namun lupa menepuk bahu anak yang diam karena pikirannya mungkin sedang lelah. Di ruang kelas, saya bicara tentang akhlak dan sabar, tapi saya sendiri kadang kehilangan sabar saat mereka tak fokus mendengar. Saya menyuruh mereka mencintai ilmu, padahal kadang saya mengajar dengan wajah yang letih, tanpa semangat, seakan ilmu hanyalah rutinitas, bukan cahaya. Saya baru sadar, menjadi guru Pendidikan Agama Islam bukan hanya soal menjelaskan rukun iman, tetapi juga memahami hati anak yang mungkin sedang retak. Tugas saya bukan sekadar membenarkan bacaan doa, melainkan menenangkan jiwa yang gundah, dan menuntun mereka mengenal Allah bukan karena takut, tetapi karena cinta. Ha...

DUNIA DEDY

Dedy kecil duduk di teras rumah, menatap langit sore yang seperti sedang berpikir. Awan berarak pelan, dan matahari bersembunyi malu di balik pucuk pohon mangga. Ia memegang pensil kecil ujungnya tumpul, tapi pikirannya tajam. “Bu,” katanya pelan, “kalau Tuhan itu ada di mana-mana, berarti Dia juga di dalam batu, kan?” Ibunya sedang menyapu halaman. Ia tersenyum, tidak terkejut. Ia tahu, anaknya ini tak pernah berhenti menanyakan hal yang membuat langit ikut berpikir. “Iya, Ded. Tapi bukan berarti batu itu Tuhan. Batu hanya tempat di mana Tuhan hadir tanpa harus menjadi batu.” Dedy terdiam. “Jadi, Tuhan bisa hadir tanpa menjadi sesuatu?” “Iya. Seperti cinta, Ded. Kau bisa merasakannya, tapi tak bisa memegangnya.” Dedy menatap ibunya lama, lalu berkata dengan polos, “Tapi Bu, kalau cinta tak bisa dipegang, kenapa banyak orang menggenggam tangan saat sedang jatuh cinta?” Ibunya berhenti menyapu. Ia menatap anaknya dengan tatapan yang sulit dijelaskan antara kagum, bangga, dan sedikit tak...

Mengajar Diri Sendiri Sebelum Mengajar Murid

Seorang guru pada hakikatnya bukan hanya penyampai pengetahuan, melainkan teladan proses belajar itu sendiri. Sebelum ia mengajar murid, ia terlebih dahulu perlu mengajar dirinya. Bukan semata-mata menguasai materi, tetapi melatih sikap mental, cara berpikir, dan daya juang dalam belajar. Dalam dunia  deep learning , kita mengenal bahwa inti pembelajaran bukan pada hasil akhir, melainkan pada proses berulang: mencoba, gagal, memperbaiki, lalu mencoba kembali. Pola ini sejalan dengan  growth mindset , yaitu keyakinan bahwa kemampuan dapat dikembangkan melalui usaha, latihan, dan ketekunan. Jika guru tidak membiasakan diri untuk belajar secara mandiri, maka ia akan mudah terjebak pada pola pikir  fixed mindset bahwa kecerdasan adalah sesuatu yang statis. Padahal, murid membutuhkan contoh nyata bahwa belajar itu tidak berhenti pada buku, kurikulum, atau ujian, melainkan perjalanan yang terus bergerak. Mengajar diri sendiri berarti membiasakan refleksi: • Apa yang sudah s...

Iron Man, Nabi Nuh, dan Sapi Pemakan Babi: Pertanyaan ‘Aneh’ Anak SD sebagai Tanda Tumbuhnya Filsafat Kritis

Oleh: Miftaqhul DM Di kelas, saya sering menerima pertanyaan-pertanyaan dari anak-anak yang terdengar  tidak masuk akal . Pertanyaan seperti: “Pak, kenapa bukan Iron Man saja yang menyelamatkan manusia, kenapa harus Nabi Nuh?” “Pak, kenapa babi haram?” “Pak, kalau sapi makan babi, terus daging sapi itu jadi halal atau haram?” Sekilas, pertanyaan-pertanyaan ini membuat kita tersenyum. Bahkan ada guru yang mungkin menganggapnya lucu, atau sekadar candaan bocah. Namun, sesungguhnya di balik pertanyaan “aneh” itu tersembunyi bibit filsafat, tanda bahwa akal seorang anak sedang berlatih melampaui batas “yang biasa”. Anak-anak tidak sekadar menerima apa yang ada, mereka menggugat, membandingkan, bahkan “menabrakkan” antara dunia fantasi dan dunia iman. Di situ letak nilai terbesarnya: mereka belajar untuk berpikir kritis. Filsuf besar selalu memulai dari pertanyaan-pertanyaan yang terdengar sederhana bahkan bodoh. Socrates, misalnya, bertanya hal-hal remeh yang justru membuka jalan bagi ...