Iron Man, Nabi Nuh, dan Sapi Pemakan Babi: Pertanyaan ‘Aneh’ Anak SD sebagai Tanda Tumbuhnya Filsafat Kritis
Oleh: Miftaqhul DM
Di kelas, saya sering menerima pertanyaan-pertanyaan dari anak-anak yang terdengar tidak masuk akal. Pertanyaan seperti:
“Pak, kenapa bukan Iron Man saja yang menyelamatkan manusia, kenapa harus Nabi Nuh?”
“Pak, kenapa babi haram?”
“Pak, kalau sapi makan babi, terus daging sapi itu jadi halal atau haram?”
Sekilas, pertanyaan-pertanyaan ini membuat kita tersenyum. Bahkan ada guru yang mungkin menganggapnya lucu, atau sekadar candaan bocah. Namun, sesungguhnya di balik pertanyaan “aneh” itu tersembunyi bibit filsafat, tanda bahwa akal seorang anak sedang berlatih melampaui batas “yang biasa”.
Anak-anak tidak sekadar menerima apa yang ada, mereka menggugat, membandingkan, bahkan “menabrakkan” antara dunia fantasi dan dunia iman. Di situ letak nilai terbesarnya: mereka belajar untuk berpikir kritis.
Filsuf besar selalu memulai dari pertanyaan-pertanyaan yang terdengar sederhana bahkan bodoh. Socrates, misalnya, bertanya hal-hal remeh yang justru membuka jalan bagi diskusi panjang. Dalam Islam pun, bertanya adalah jalan ilmu. Wahyu pertama yang turun bukanlah “taatlah”, melainkan “Iqra’”bacalah. Membaca tidak hanya teks, tapi juga membaca hidup, membaca logika, membaca keanehan, dan membaca pertanyaan-pertanyaan yang tidak terduga.
Maka, ketika seorang anak bertanya: “Kalau sapi makan babi, halalnya ke mana?” itu bukan sekadar lelucon. Itu latihan berpikir tentang hukum, tentang sebab-akibat, tentang batas halal-haram. Ketika mereka bertanya: “Kenapa tidak Iron Man saja yang membelah laut?” mereka sedang membandingkan antara dunia dongeng modern dan kisah nabi, antara mitos buatan manusia dengan mukjizat yang bersumber dari Tuhan.
Sebagai guru, saya tidak harus langsung memberi jawaban mutlak. Kadang, tugas saya hanyalah mengarahkan: “Kenapa menurutmu begitu?” atau “Kalau kamu jadi Nabi Nuh, apa yang akan kamu lakukan?” Dengan begitu, kelas menjadi ruang belajar berpikir, bukan hanya ruang menerima jawaban.
Pertanyaan “aneh” anak SD itu adalah pintu masuk filsafat. Dan filsafat, pada akhirnya, adalah latihan menumbuhkan akal sehat agar tidak gampang ditipu oleh zaman, tidak mudah percaya pada mitos yang menyesatkan, dan tetap berpijak pada cahaya wahyu.
Jangan buru-buru menutup mulut anak yang bertanya, sebab dari sanalah lahir generasi kritis yang berani mencari kebenaran.
Komentar
Posting Komentar