Mengajar Diri Sendiri Sebelum Mengajar Murid

Seorang guru pada hakikatnya bukan hanya penyampai pengetahuan, melainkan teladan proses belajar itu sendiri. Sebelum ia mengajar murid, ia terlebih dahulu perlu mengajar dirinya. Bukan semata-mata menguasai materi, tetapi melatih sikap mental, cara berpikir, dan daya juang dalam belajar.


Dalam dunia deep learning, kita mengenal bahwa inti pembelajaran bukan pada hasil akhir, melainkan pada proses berulang: mencoba, gagal, memperbaiki, lalu mencoba kembali. Pola ini sejalan dengan growth mindset, yaitu keyakinan bahwa kemampuan dapat dikembangkan melalui usaha, latihan, dan ketekunan.


Jika guru tidak membiasakan diri untuk belajar secara mandiri, maka ia akan mudah terjebak pada pola pikir fixed mindsetbahwa kecerdasan adalah sesuatu yang statis. Padahal, murid membutuhkan contoh nyata bahwa belajar itu tidak berhenti pada buku, kurikulum, atau ujian, melainkan perjalanan yang terus bergerak.


Mengajar diri sendiri berarti membiasakan refleksi:

Apa yang sudah saya pahami hari ini?

Bagian mana yang perlu saya ulangi atau perbaiki?

Bagaimana cara saya menjelaskan konsep sulit dengan sederhana?


Dengan begitu, guru hadir bukan sekadar “menyuruh belajar”, tetapi menjadi bukti hidup bahwa proses belajar itu layak diperjuangkan. Murid melihat guru bukan hanya sebagai sumber jawaban, melainkan sebagai sahabat perjalanan dalam menemukan pengetahuan.


Akhirnya, mengajar diri sendiri sebelum mengajar murid adalah bentuk tanggung jawab moral. Sebab guru yang terus belajar akan melahirkan murid yang tidak takut salah, berani mencoba, dan yakin bahwa setiap kegagalan hanyalah batu loncatan menuju pemahaman yang lebih dalam.

Komentar

Postingan Populer