Sebuah Kritik Untuk Diri Sendiri

Terkadang, saya lupa…

bahwa di depan saya bukanlah sekadar murid yang harus bisa menjawab soal-soal agama,

melainkan jiwa-jiwa kecil yang sedang belajar memahami dunia.


Saya terlalu sering menuntut mereka untuk hafal ayat,

tanpa menanyakan, apakah hatinya sedang tenang hari ini?

Saya memuji mereka yang cepat menjawab,

namun lupa menepuk bahu anak yang diam karena pikirannya mungkin sedang lelah.


Di ruang kelas, saya bicara tentang akhlak dan sabar,

tapi saya sendiri kadang kehilangan sabar saat mereka tak fokus mendengar.

Saya menyuruh mereka mencintai ilmu,

padahal kadang saya mengajar dengan wajah yang letih, tanpa semangat,

seakan ilmu hanyalah rutinitas, bukan cahaya.


Saya baru sadar,

menjadi guru Pendidikan Agama Islam bukan hanya soal menjelaskan rukun iman,

tetapi juga memahami hati anak yang mungkin sedang retak.

Tugas saya bukan sekadar membenarkan bacaan doa,

melainkan menenangkan jiwa yang gundah,

dan menuntun mereka mengenal Allah bukan karena takut,

tetapi karena cinta.


Hari ini, saya ingin menegur diri saya sendiri:

“Jadilah guru yang hadir, bukan hanya datang.

Jadilah teladan, bukan sekadar pengajar.

Jadilah pendengar, bukan hanya pemberi nasihat.”


Sebab barangkali,

ilmu agama yang paling mereka butuhkan saat ini

bukan di buku pelajaran,

tetapi di kelembutan hati seorang guru yang memahami perasaan mereka.


Dan mungkin…

di balik setiap tatapan mata murid yang hening,

Tuhan sedang mengingatkan saya bahwa mendidik adalah bentuk ibadah yang paling sunyi,

namun paling mulia…

jika dilakukan dengan hati.

Komentar

Postingan Populer