Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2026

Berjuang di PMII, Berlabuh di Kelas: Salah Jalan atau Justru Puncak Perjuangan?

Banyak yang bertanya sinis: untuk apa aktif di PMII kalau pada akhirnya hanya menjadi guru? Seolah-olah ruang kelas adalah tempat “berhenti”, bukan medan perjuangan. Padahal, cara pandang seperti ini justru terlalu sempit dalam memaknai gerakan dan pengabdian. PMII bukan sekadar organisasi untuk mencetak aktivis jalanan atau orator mimbar. Ia adalah ruang kaderisasi—tempat menempa cara berpikir kritis, keberpihakan pada rakyat, serta keberanian menyuarakan kebenaran. Lalu ketika seorang kader memilih menjadi guru, apakah nilai-nilai itu hilang? Tidak. Justru di sanalah nilai itu diuji secara nyata. Menjadi guru bukan berarti meninggalkan idealisme, tapi memindahkan arena juang. Dari jalanan ke ruang kelas, dari teriakan ke pembentukan karakter. Seorang guru kader PMII punya potensi besar: menanamkan kesadaran kritis sejak dini, membentuk generasi yang tidak apatis, dan melahirkan pemikir-pemikir masa depan. Namun kritiknya juga jelas: jangan sampai PMII hanya dijadikan “romantisa...

Negeri Lullaby

Di sebuah dunia dalam anime yang langitnya selalu berwarna senja, ada satu negara bernama Lullaby. Negeri ini indah sekali—rumah-rumahnya rapi, jalanannya bersih, dan setiap pagi terdengar lagu lembut dari pengeras suara di langit. Aku, Aru, seorang anak berumur 12 tahun, sering duduk di jendela sambil mendengarkan lagu itu. Katanya, lagu itu membuat hati tenang. Tapi entah kenapa… aku justru merasa seperti sedang dilupakan. Setiap pagi, kami mendapat makanan bergizi gratis. Nasi hangat, telur, sayur, bahkan susu. Guru-guru bilang, “Ini hadiah dari Presiden kita. Beliau sangat mencintai rakyatnya.” Aku mengangguk. Semua anak mengangguk. Tapi aku pernah melihat ibu diam lama sebelum makan. Seperti ingin mengatakan sesuatu, tapi tidak jadi. Di desa kami juga ada Koperasi Desa. Tempat orang-orang mengambil kebutuhan sehari-hari. Semua terasa mudah. Tidak perlu khawatir. Tidak perlu bertanya terlalu banyak. Ayahku pernah bilang pelan, “Kalau semua terlalu mudah… biasanya ada yang disembuny...