DUNIA DEDY

Dedy kecil duduk di teras rumah, menatap langit sore yang seperti sedang berpikir. Awan berarak pelan, dan matahari bersembunyi malu di balik pucuk pohon mangga. Ia memegang pensil kecil ujungnya tumpul, tapi pikirannya tajam.


“Bu,” katanya pelan, “kalau Tuhan itu ada di mana-mana, berarti Dia juga di dalam batu, kan?”


Ibunya sedang menyapu halaman. Ia tersenyum, tidak terkejut. Ia tahu, anaknya ini tak pernah berhenti menanyakan hal yang membuat langit ikut berpikir.


“Iya, Ded. Tapi bukan berarti batu itu Tuhan. Batu hanya tempat di mana Tuhan hadir tanpa harus menjadi batu.”


Dedy terdiam.

“Jadi, Tuhan bisa hadir tanpa menjadi sesuatu?”

“Iya. Seperti cinta, Ded. Kau bisa merasakannya, tapi tak bisa memegangnya.”


Dedy menatap ibunya lama, lalu berkata dengan polos, “Tapi Bu, kalau cinta tak bisa dipegang, kenapa banyak orang menggenggam tangan saat sedang jatuh cinta?”


Ibunya berhenti menyapu. Ia menatap anaknya dengan tatapan yang sulit dijelaskan antara kagum, bangga, dan sedikit takut. Takut pada hari ketika pertanyaan-pertanyaan anaknya tak bisa lagi ia jawab.


“Karena, Nak,” jawabnya lembut, “genggaman itu bukan untuk memegang cinta. Tapi untuk meyakinkan diri, bahwa yang tak bisa dipegang, benar-benar ada.”


Dedy mengangguk pelan.

Ia mencatat sesuatu di buku kecilnya:


“Mungkin dunia ini bukan tempat mencari jawaban, tapi tempat belajar menanyakan dengan cara yang lebih indah.”


Hari berganti hari. Pertanyaannya tumbuh seperti pohon, cabangnya kemana-mana:

Kenapa waktu berjalan, bukan berlari?

Kenapa manusia menangis saat bahagia?

Dan kenapa kebenaran kadang menyakitkan, padahal katanya suci?


Ibunya tak selalu punya jawaban, tapi ia selalu punya ketenangan.

Dan Dedy belajar, bahwa di antara kebingungan dan ketenangan itulah, filsafat lahir.


Suatu malam, saat langit penuh bintang, Dedy berkata pada dirinya sendiri,


“Mungkin aku bukan sedang mencari kebenaran, tapi sedang diajaknya berbicara.”


Dan begitulah Dunia Dedy dimulai dari seorang anak kecil yang tak berhenti bertanya, dan seorang ibu yang tak berhenti mendengarkan. Dunia yang kecil, tapi di dalamnya, seluruh semesta sedang menjawab dengan lembut.

Komentar

Postingan Populer