Relawan Digaji Tinggi, Guru Honorer Bertahan dengan Upah Seadanya: Di Mana Keadilan Negara?

Belakangan ini, publik dibuat bertanya-tanya oleh munculnya informasi tentang relawan MBG yang menerima gaji relatif tinggi. Di saat yang sama, guru honorer—yang telah lama mengabdi di sekolah-sekolah negeri maupun swasta—masih harus bertahan dengan penghasilan yang jauh dari kata layak. Kondisi ini bukan sekadar soal perbandingan angka, melainkan soal keadilan, prioritas, dan arah kebijakan negara.


Guru honorer memikul tanggung jawab besar dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Mereka hadir setiap hari di ruang kelas, menyiapkan materi, membimbing siswa, menghadapi tantangan kurikulum, dan membentuk karakter generasi masa depan. Namun, pengabdian panjang tersebut sering kali dibalas dengan upah minim, tanpa kepastian status, jaminan kesejahteraan, maupun perlindungan yang memadai.


Sebaliknya, relawan dalam program tertentu—yang sifatnya sementara dan berbasis proyek—justru memperoleh apresiasi finansial yang lebih tinggi. Ini menimbulkan pertanyaan mendasar: apakah kerja yang bersifat programatik lebih bernilai dibanding pengabdian jangka panjang guru honorer? Jika negara mampu mengalokasikan anggaran besar untuk relawan, mengapa keadilan serupa belum dirasakan oleh para pendidik?


Kritik ini bukan untuk menafikan peran relawan, melainkan untuk menyoroti ketimpangan kebijakan. Pembangunan yang berkelanjutan tidak bisa dilepaskan dari kualitas pendidikan, dan kualitas pendidikan sangat bergantung pada kesejahteraan guru. Mengabaikan nasib guru honorer sama saja dengan melemahkan fondasi masa depan bangsa itu sendiri.


Sudah saatnya pemerintah menata ulang skala prioritas anggaran dengan lebih adil dan berkeadaban. Penghargaan terhadap guru honorer tidak boleh berhenti pada slogan atau janji, tetapi harus diwujudkan dalam kebijakan konkret: gaji layak, kepastian status, dan perlindungan profesional. Keadilan sosial tidak lahir dari program yang viral, melainkan dari keberpihakan nyata kepada mereka yang bekerja dalam senyap demi masa depan Indonesia.

Komentar

Postingan Populer