Pemimpin dan Kemlaratan

Kemlaratan kerap dipahami sebagai kekurangan materi, ketiadaan harta, atau hidup yang jauh dari kenyamanan. Namun dalam sejarah kepemimpinan, justru dari kemlaratan sering lahir pemimpin yang paling jujur pada amanah. Ia tidak membeli loyalitas, tidak menukar kebijakan dengan rupiah, dan tidak menjadikan jabatan sebagai jalan memperkaya diri. Kepemimpinan semacam ini jarang, tetapi nyata.


Di Institut Agama Islam Pangeran Diponegoro Nganjuk, pernah berdiri seorang pemimpin mahasiswa yang memimpin tanpa pragmatisme uang sama sekali. Ia adalah Presiden Mahasiswa yang hidup dalam kemlaratan, namun kaya akan tanggung jawab. Tidak ada fasilitas mewah, tidak ada keuntungan finansial, bahkan sering kali harus merogoh saku sendiri untuk sekadar menjalankan roda organisasi. Namun amanah tidak pernah ia tawar.


Ia merupakan kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), tumbuh dan ditempa di komisariat pada masa itu. Proses kaderisasi membentuknya menjadi pribadi yang memahami bahwa kepemimpinan bukanlah soal kuasa, melainkan pengabdian. Dari forum-forum kecil, diskusi panjang, dan kerja sunyi organisasi, ia belajar bahwa pemimpin sejati tidak dilahirkan dalam tepuk tangan, tetapi dibentuk oleh kesabaran dan pengorbanan.


Ketika ia memimpin, Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) berada dalam kondisi mati suri. Struktur ada, tetapi ruhnya hilang. Organisasi mahasiswa kehilangan arah, UKM berjalan tanpa legitimasi, bahkan sebagian tanpa Surat Keputusan. Dalam keterbatasan itu, ia memilih untuk tidak menyerah. Dengan langkah perlahan namun pasti, ia membangun ulang DEMA, menghidupkan kembali fungsi organisasi mahasiswa sebagai ruang aspirasi, kaderisasi, dan perjuangan intelektual.


UKM-UKM yang lama terabaikan kembali digerakkan. Tanpa anggaran yang memadai, tanpa jaminan dukungan, ia mengandalkan kepercayaan dan semangat kolektif. Ia tidak menjanjikan apa-apa selain kerja dan ketulusan. Dari situlah kehidupan organisasi mahasiswa perlahan berdenyut kembali.


Ia memimpin bukan karena ambisi pribadi, tetapi karena keadaan menuntut tanggung jawab. Dua periode kepemimpinan, dari 2021 hingga 2023, ia jalani dengan konsistensi. Bukan karena ingin mempertahankan kuasa, melainkan karena amanah belum selesai. Dalam dua periode itu, kemlaratan tidak pernah hilang dari hidupnya, tetapi integritas juga tidak pernah lepas dari dirinya.


Ia bukan pemimpin yang lahir langsung jadi. Ia adalah pemimpin yang dibentuk oleh keadaan, ditempa oleh kesulitan, dan didewasakan oleh tanggung jawab. Kepemimpinannya menjadi bukti bahwa kemiskinan materi tidak selalu melahirkan kemiskinan nilai. Justru sebaliknya, dari hidup yang sederhana lahir kepemimpinan yang jujur dan bersih.


Di tengah zaman yang sering mengukur kepemimpinan dengan materi dan kepentingan, kisah ini menjadi pengingat: bahwa pemimpin sejati bisa saja mlarat, tetapi tidak pernah miskin amanah.


Komentar

Postingan Populer