Hipnosis Kekuasaan

Kalian tahu tentang hipnosis?


Dalam dunia psikologi, hipnosis adalah keadaan ketika seseorang masuk ke dalam alam bawah sadar—sebuah ruang sunyi di mana logika tidak sepenuhnya bekerja, dan sugesti menjadi begitu kuat. Di titik itu, seseorang bisa menerima sesuatu tanpa banyak bertanya. Bukan karena bodoh, tetapi karena kesadarannya sedang diarahkan.


Pertanyaannya, apakah mungkin sebuah bangsa juga bisa “dihipnosis”?


Hari ini, saya mulai merasa ada pola yang menyerupai itu. Bukan hipnosis dalam arti harfiah, melainkan cara-cara halus yang membuat publik perlahan menerima berbagai program besar tanpa cukup ruang untuk mempertanyakan. Program-program itu datang dengan nama yang terdengar baik, bahkan mulia—seperti MBG, KDMP, dan berbagai inisiatif lain yang dikemas dengan bahasa kesejahteraan.


Di permukaan, semuanya tampak menjanjikan. Rakyat diberi harapan, narasi dibangun dengan rapi, dan optimisme disebarkan melalui berbagai saluran. Tapi seperti dalam hipnosis, fokus kita diarahkan hanya pada hal-hal tertentu—pada manfaat, pada tujuan besar—sementara detail-detail penting dibiarkan kabur.


Anggaran yang membengkak.

Pengawasan yang samar.

Dan celah-celah yang, jika tidak dijaga, bisa berubah menjadi praktik korupsi yang terstruktur.


Di titik ini, kita tidak lagi berbicara tentang satu atau dua program. Kita berbicara tentang pola. Ketika program-program besar diluncurkan bertubi-tubi, dengan skala yang masif dan kontrol yang lemah, risiko penyimpangan tidak lagi menjadi kemungkinan—melainkan sesuatu yang hampir tak terhindarkan.


Hipnosis bekerja dengan membuat seseorang merasa nyaman, aman, dan percaya. Begitu juga dengan kekuasaan. Ia tidak selalu datang dengan paksaan. Kadang ia hadir dengan senyuman, dengan janji, dengan kalimat-kalimat yang menenangkan.


“Ini untuk rakyat.”

“Ini demi kemajuan.”

“Ini solusi jangka panjang.”


Kalimat-kalimat itu diulang, dipertegas, dan disebarkan, hingga akhirnya kita menerimanya tanpa banyak resistensi. Tanpa sadar, kita masuk ke dalam “alam bawah sadar kolektif”—di mana kritik terasa berlebihan, dan pertanyaan dianggap mengganggu.


Padahal, dalam negara yang sehat, justru pertanyaan adalah tanda kehidupan.


Tulisan ini bukan untuk menolak semua program pemerintah. Tidak semua kebijakan buruk, dan tidak semua niat layak dicurigai. Namun, kewaspadaan adalah bagian dari tanggung jawab sebagai warga negara. Sebab sejarah telah berkali-kali menunjukkan: kekuasaan yang terlalu dipercaya, tanpa pengawasan yang kuat, cenderung menyimpang.


Hipnosis hanya bekerja selama kita tidak menyadarinya.


Dan mungkin, langkah pertama untuk keluar dari itu adalah sederhana:

mulai kembali bertanya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nadzom Sebagai Media Melatih Daya Ingat Peserta Didik di SDN 2 Ngringin dalam Pembelajaran PAI

Mahasiswa dan Tanggung Jawab Sosial

Tantangan Pendidikan di Wilayah Industrial Kota Nganjuk