Guru di Dua Era: 70-an dan 2026

Dulu, guru tahun 70-an mengajar dengan fasilitas yang sederhana. Kapur tulis, papan hitam, buku yang terbatas, bahkan perjalanan ke sekolah pun sering kali tidak mudah. Namun, di balik segala kekurangan itu, ada satu hal yang sulit dibantah: kewibawaan guru lahir dari keteladanan. Murid menghormati bukan karena takut pada aturan, melainkan karena melihat sosok yang hidupnya selaras dengan apa yang diajarkan.

Hari ini, tahun 2026, keadaan berubah. Guru memiliki internet, kecerdasan buatan, proyektor, platform digital, kurikulum yang terus diperbarui, dan akses ilmu yang hampir tak berbatas. Ironisnya, semakin banyak alat, semakin sedikit waktu untuk benar-benar mendidik. Guru sibuk mengunggah data, mengisi aplikasi, mengejar administrasi, hingga terkadang lupa bahwa inti pendidikan bukanlah dokumen, melainkan manusia.

Dulu, guru berlomba menjadi teladan. Hari ini, sebagian guru justru lebih sibuk membangun citra. Kelas kadang berubah menjadi panggung konten, sementara ruang dialog dengan peserta didik semakin sempit. Pendidikan yang seharusnya membentuk karakter perlahan tergeser oleh budaya mengejar formalitas dan pencapaian yang mudah dipamerkan.

Namun, kritik ini bukan untuk mengagungkan masa lalu. Guru era 70-an pun memiliki keterbatasan, sebagaimana guru 2026 menghadapi tantangan yang jauh lebih kompleks. Persoalannya bukan soal zaman, melainkan keberanian untuk kembali mengingat hakikat profesi ini.

Guru tidak hanya dituntut mampu mengajar, tetapi juga hadir sebagai manusia yang terus belajar. Sebab murid tidak hanya mengingat apa yang dijelaskan gurunya, tetapi juga bagaimana gurunya menjalani hidup.

Mungkin yang hilang hari ini bukan kecerdasan guru, melainkan ruang untuk menjadi pendidik yang utuh. Dan jika pendidikan ingin kembali menemukan jiwanya, perubahan tidak cukup dimulai dari kurikulum atau teknologi. Perubahan harus dimulai dari keberanian guru untuk kembali menjadi teladan, dan keberanian sistem untuk mengembalikan guru pada tugas utamanya: mendidik manusia.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nadzom Sebagai Media Melatih Daya Ingat Peserta Didik di SDN 2 Ngringin dalam Pembelajaran PAI

Iron Man, Nabi Nuh, dan Sapi Pemakan Babi: Pertanyaan ‘Aneh’ Anak SD sebagai Tanda Tumbuhnya Filsafat Kritis

DUNIA DEDY